Aturan 80/20 untuk spare part: bagaimana ABC membantu memangkas item slow-moving tanpa mengorbankan uptime
Pernah melihat gudang spare part makin penuh, tetapi saat mesin butuh komponen kritikal justru harus “mencari dulu”? Situasi ini umum di pabrik: cash tertahan di item slow-moving, ruang penyimpanan makin sesak, sementara tim maintenance tetap dituntut menjaga uptime. Kabar baiknya, Anda tidak harus memilih salah satu. Dengan pendekatan 80/20 (Pareto) dan klasifikasi ABC, banyak organisasi berhasil merapikan portofolio spare part tanpa mengorbankan ketersediaan item yang benar-benar menentukan produksi—dan semuanya bisa dimulai dari data yang sudah Anda miliki di ERP atau spreadsheet.
Artikel ini berpijak pada perspektif praktik dari pembahasan 80/20 (Pareto Principle) untuk inventory serta dukungan akademik dari riset ilmiah tentang optimasi persediaan dan kebijakan pengendalian stok. Kami mengangkat tema ini karena banyak tim procurement, PPIC, dan maintenance di koridor industri Karawang menghadapi tekanan ganda: audit inventory yang menuntut perapihan SKU, sekaligus target uptime yang tidak boleh turun. Di sinilah metodologi abc spare part mro menjadi jembatan yang praktis, terukur, dan mudah dikomunikasikan lintas fungsi.
80/20 bukan berarti mengabaikan 80% item. Artinya: fokuskan energi manajemen pada sedikit item yang menyumbang dampak terbesar—lalu kelola sisanya dengan aturan yang lebih sederhana.
1. Kenapa 80/20 dan ABC relevan untuk spare part MRO?
Di banyak pabrik, katalog MRO membesar seiring usia aset dan diversifikasi lini produksi. Tanpa struktur, daftar SKU bertambah dari “butuh untuk jaga-jaga” hingga “pernah dipakai sekali lalu tersisa.” Bab ini menjelaskan kenapa 80/20 dan ABC sering menjadi langkah pertama yang paling masuk akal sebelum program besar seperti predictive maintenance atau re-design warehouse.
Masalah klasik: terlalu banyak SKU, terlalu sedikit visibilitas
- Slow-moving menumpuk: item jarang terpakai, tetapi menyita ruang dan nilai persediaan.
- Risk tersembunyi: item kritikal tidak terpetakan jelas, sehingga rawan stockout.
- Perdebatan internal: finance ingin turunkan inventory; maintenance ingin “aman”.
ABC dalam konteks MRO: bukan sekadar teori gudang
Pada praktiknya, abc spare part mro membantu menjawab dua pertanyaan yang selalu muncul di rapat:
- SKU mana yang benar-benar harus diprioritaskan (dari sisi nilai dan dampak operasional)?
- SKU mana yang bisa dikelola dengan kebijakan lebih ringan (tanpa mengundang risiko downtime)?
2. ABC untuk spare part: bedanya nilai, konsumsi, dan kritikalitas
ABC yang “murni nilai” (value-based) sering bagus untuk barang dagangan, tetapi MRO memiliki dimensi lain: item murah bisa sangat kritikal. Karena itu, bab ini membedakan beberapa cara membangun ABC agar sesuai realitas maintenance.
Tiga cara membangun klasifikasi ABC (pilih sesuai konteks)
| Metode ABC | Basis perhitungan | Kapan cocok | Risiko jika dipakai sendiri |
|---|---|---|---|
| ABC berbasis nilai | Nilai konsumsi tahunan (harga × pemakaian) | Fokus cash & working capital | Item murah tapi kritikal bisa “tersembunyi” |
| ABC berbasis frekuensi | Jumlah transaksi/pemakaian | Perapihan operasional picking & replenishment | Item mahal tapi jarang dipakai bisa luput |
| ABC berbasis kritikalitas | Impact terhadap uptime, safety, quality | Lingkungan high-uptime, bottleneck, JIT | Butuh governance lintas fungsi (maintenance–produksi–HSE) |
Praktik terbaik: ABC + criticality overlay
Agar abc spare part mro tidak sekadar “mengejar angka inventory”, gunakan overlay sederhana:
- Kelas A: 70–80% nilai konsumsi tahunan (biasanya 10–20% SKU).
- Kelas B: 15–25% nilai (biasanya 20–30% SKU).
- Kelas C: sisa nilai (biasanya mayoritas SKU).
Lalu tandai item Critical (berbasis downtime/safety/quality). Item C yang Critical tidak boleh diperlakukan seperti C biasa.
Dalam ekosistem pengadaan harian, banyak pabrik memilih bermitra dengan Karawang industrial supplier agar item berulang (consumable, tools, safety) tetap tersedia dengan lead time yang lebih terkendali—sehingga kebijakan stok bisa lebih ramping.
3. Aturan 80/20 untuk memangkas slow-moving tanpa menurunkan uptime
Inti 80/20 adalah memprioritaskan. Dalam konteks spare part, prioritas bukan berarti mengurangi stok sembarangan, melainkan mengidentifikasi mana yang menjadi “penyumbang terbesar” dari sisi nilai dan risiko. Bab ini menawarkan kerangka kerja untuk mengurangi slow-moving dengan aman.
Segmentasi yang praktis dipakai di pabrik
- A & Critical: fokus utama. Tetapkan service level tinggi, review berkala, dual-source jika perlu.
- A non-Critical: kontrol ketat, optimasi reorder point, pertimbangkan VMI/consignment.
- B: kebijakan standar, review kuartalan, rationalisasi substitusi.
- C non-Critical: kandidat utama untuk pengurangan item, konsolidasi brand, make-to-order, atau list “non-stock”.
- C & Critical: jangan dipangkas asal; cari alternatif: stocking kecil + SLA pemasok + emergency kit.
Empat taktik aman untuk merapikan slow-moving
- Konsolidasi SKU: kurangi variasi yang fungsinya sama (standardisasi ukuran/bahan/brand).
- Substitusi terkontrol: buat daftar substitusi yang disetujui maintenance (bukan “asal cocok”).
- Non-stock policy: item tertentu tidak disimpan, tetapi punya SLA pengadaan yang jelas.
- Kanban untuk fast-moving: agar stok tinggi hanya terjadi pada item yang memang bergerak cepat.
Jika Anda beroperasi di kawasan industri padat seperti KIIC, kombinasi kebijakan non-stock dan SLA pemasok sering lebih efektif dibanding menumpuk stok. Banyak tim procurement memanfaatkan jaringan supplier industri KIIC Karawang untuk mempercepat respons sehingga gudang tidak perlu menanggung terlalu banyak item C.
4. How-To: menjalankan ABC spare part MRO dalam 7 langkah (tanpa proyek besar)
Bab ini adalah bagian eksekusi. Anda dapat menjalankan abc spare part mro sebagai sprint 2–4 minggu bersama tim maintenance, warehouse, dan procurement. Kuncinya bukan software baru, melainkan definisi yang disepakati dan disiplin data.
Langkah-langkahnya
- Tarik data 12 bulan: pemakaian (issue), harga, lead time, dan supplier untuk setiap SKU.
- Hitung nilai konsumsi tahunan: harga × jumlah pemakaian (atau transaksi) per SKU.
- Urutkan dari terbesar ke terkecil lalu hitung kumulatif persentase nilai.
- Tetapkan batas A/B/C: misalnya A hingga 80%, B hingga 95%, C sisanya (sesuaikan konteks).
- Tambahkan criticality tag: Critical/Non-critical berdasarkan dampak downtime, safety, dan quality.
- Tentukan kebijakan stok per segmen: min-max, reorder point, review cycle, dan SLA pemasok.
- Jalankan rationalisasi slow-moving: konsolidasi, substitusi, non-stock, atau disposal sesuai governance.
Template kebijakan stok yang mudah dipresentasikan
| Segmen | Review | Target service level | Pendekatan stok |
|---|---|---|---|
| A & Critical | Mingguan | Terukur tinggi | Buffer konservatif, dual-source, emergency stock |
| A non-Critical | Bulanan | Tinggi | Optimasi reorder point, VMI/consignment jika memungkinkan |
| B | Kuartalan | Menengah | Min-max standar, standardisasi SKU |
| C non-Critical | Semester | Menengah–rendah | Non-stock, order on demand, konsolidasi, kurangi variasi |
| C & Critical | Bulanan | Terukur tinggi | Stok kecil + SLA pemasok + kit emergency |
Untuk tim yang membutuhkan respons cepat atas kebutuhan harian lintas kategori, banyak pabrik memanfaatkan titik koordinasi pengadaan melalui Karawang BtoB supplier agar kebijakan ABC bisa berjalan tanpa “panic buying” saat terjadi kebutuhan mendadak.
5. Pitfall yang sering membuat program ABC gagal diam-diam
Implementasi abc spare part mro terlihat mudah di spreadsheet, tetapi bisa gagal ketika governance tidak jelas. Bab ini membahas jebakan yang paling sering terjadi—dan cara menghindarinya sebelum menjadi konflik lintas departemen.
Jebakan paling umum
- ABC hanya berdasarkan nilai: item murah tapi kritikal tereliminasi, lalu downtime meningkat.
- Data pemakaian tidak bersih: issue tanpa work order, retur tidak tercatat, harga tidak update.
- Tidak ada daftar substitusi resmi: saat item dipangkas, tim shopfloor improvisasi.
- Disposal tanpa akar masalah: stok lama dibuang, tetapi pola pembelian yang salah tetap terjadi.
- Supplier readiness diabaikan: non-stock policy dibuat tanpa SLA yang realistis.
Kontrol minimal yang sebaiknya ada
- Definisi criticality yang ditandatangani maintenance–produksi–HSE.
- Daftar substitusi “approved equivalent”.
- Review cadence yang konsisten untuk segmen A & Critical.
6. FAQ: pertanyaan yang paling sering muncul dari pabrik
Setelah workshop ABC, pertanyaan berikut hampir selalu muncul. Bab ini merangkum jawaban operasional agar program abc spare part mro tidak berhenti di presentasi.
ABC itu sama dengan VED (criticality)?
Tidak sama. ABC mengelompokkan berdasarkan nilai/frekuensi, sedangkan VED/criticality mengelompokkan berdasarkan dampak. Untuk MRO, kombinasi keduanya lebih aman.
Kalau item C jarang dipakai, boleh langsung dihapus dari stok?
Jangan otomatis. Pastikan status criticality-nya. Item C yang kritikal sebaiknya tetap punya strategi: stok kecil, emergency kit, atau SLA pemasok yang ketat.
Bagaimana menentukan batas 80/15/5 atau 70/20/10?
Mulai dari praktik umum (mis. A hingga 80% nilai), lalu sesuaikan berdasarkan jumlah SKU, volatilitas pemakaian, dan risiko downtime. Yang penting: konsisten dan bisa dijelaskan.
Apa indikator keberhasilan program ABC?
Biasanya kombinasi: nilai inventory turun, space gudang lebih longgar, tingkat stockout untuk item kritikal tidak naik, dan waktu pencarian/pengambilan barang membaik.
Siapa yang harus memimpin program ini?
Idealnya kolaborasi procurement–warehouse–maintenance dengan sponsor plant management. Procurement mengatur kebijakan pengadaan, maintenance menentukan criticality, warehouse memastikan eksekusi fisik.
Menutup dengan rapi: pangkas slow-moving, jaga uptime, dan rapikan cash
Sebagai penutup, pada akhirnya program inventory yang sehat bukan tentang “mengurangi stok sebanyak-banyaknya”, melainkan menaruh stok di tempat yang tepat. Dengan abc spare part mro, Anda bisa memusatkan kontrol pada item yang menyerap nilai terbesar, sambil menata item slow-moving dengan cara yang aman bagi uptime. Jika Anda ingin menyusun segmentasi ABC, menetapkan criticality, atau merancang SLA pengadaan untuk menurunkan SKU tanpa mengundang risiko downtime, kami siap menjadi mitra diskusi.
PT Duta Swarna Dwipa adalah perusahaan supplier B2B industri yang terkemuka di Karawang, Bekasi, dan Purwakarta. Di Karawang secara khusus atau di Jawa Barat bagian manapun Anda berada, tim kami akan senang hati untuk berdiskusi dengan Anda. Silakan hubungi halaman kontak atau gunakan tombol WhatsApp di bagian bawah halaman ini.
