Search Suggest

Setpoint HVAC Hemat Energi: 22,2°C ke 25°C, Hemat 29%

Setpoint HVAC hemat energi bisa dimulai dari 22,2°C ke 25°C—ukur saving, kelola comfort & RH, dan jalankan pilot aman berbasis data.

Setpoint HVAC: menaikkan suhu pendingin 22,2°C→25°C bisa hemat energi 29% (tanpa menurunkan kepuasan)

Di banyak gedung pabrik, energi tidak “bocor” dari mesin produksi saja—melainkan dari kebiasaan kecil yang dibiarkan bertahun-tahun: suhu AC yang terlalu dingin, setpoint yang tidak konsisten antar zona, dan keluhan yang ditangani dengan cara paling instan (turunkan suhu lagi). Padahal, dari sudut pandang operasi, perubahan kecil pada setpoint sering memberi dampak besar pada konsumsi listrik, beban chiller, dan stabilitas kenyamanan penghuni, tanpa harus proyek retrofit mahal. Inilah mengapa strategi setpoint hvac hemat energi layak masuk agenda manajemen fasilitas.

Setpoint HVAC hemat energi: thermostat 25°C pada kantor minimalis dengan ducting HVAC modern, pencahayaan lembut, aksen biru–gold tanpa manusia.
Setpoint HVAC hemat energi di ruang kerja modern—penyesuaian suhu 22,2°C ke 25°C untuk efisiensi operasional dan konsumsi listrik yang lebih rendah. (Ilustrasi oleh AI)

Artikel ini berangkat dari dua rujukan yang kuat: laporan industri yang merangkum eksperimen Stanford tentang intervensi HVAC berbiaya rendah (liputan Facilities Dive terkait strategi prioritisasi dan uji setpoint) dan kajian akademik di jurnal Energy and Buildings yang membahas optimasi setpoint serta kenyamanan termal (riset ilmiah tentang optimasi thermostat setpoints dan comfort). Kami mengangkat tema ini karena pembaca kami—facility manager, engineering, EHS, hingga procurement—sering menghadapi dilema klasik: ingin hemat energi, tapi takut komplain meningkat. Kabar baiknya: ada cara yang terukur dan bisa dimulai minggu ini, dimulai dari setpoint hvac hemat energi.

“Setpoint bukan sekadar angka di BMS. Ia adalah keputusan biaya—setiap hari, setiap jam, di setiap zona.”


1. Mengapa menaikkan setpoint bisa hemat, tanpa membuat orang tidak nyaman?

Intinya sederhana: semakin rendah setpoint pendingin, semakin besar beban pendinginan yang harus dikejar sistem—terutama saat cuaca panas, okupansi tinggi, atau infiltrasi udara luar besar. Studi-studi yang dirangkum dalam literatur HVAC menunjukkan bahwa perubahan kecil pada setpoint dapat menghasilkan penurunan energi yang bermakna. Bahkan, ada temuan yang sering dikutip: menaikkan setpoint pendingin dari 22,2°C ke 25°C berpotensi menurunkan konsumsi energi pendinginan secara signifikan, dengan dampak kepuasan yang tidak selalu menurun bila implementasinya rapi dan bertahap.

Apa yang sebenarnya terjadi di balik angka 22,2°C → 25°C?

  • Beban chiller dan AHU turun karena perbedaan temperatur target mengecil.
  • Waktu operasi kompresor berkurang (duty cycle menurun), terutama di jam puncak.
  • Overcooling berkurang, yang sering memicu keluhan “kedinginan” dan penggunaan heater portable diam-diam.
  • Kontrol kelembapan menjadi lebih stabil bila strategi ventilasi dan dehumidification diselaraskan.

Mitos yang perlu diluruskan sebelum mulai

  • Mitos: Setpoint lebih tinggi pasti lebih panas dan pasti lebih banyak komplain.
    Fakta: Komplain sering dipicu ketidakseragaman antar zona, aliran udara, dan kontrol yang “hunting”, bukan semata angka setpoint.
  • Mitos: Hanya gedung kantor yang bisa dioptimasi.
    Fakta: Area pabrik, gudang, dan fasilitas penunjang justru sering punya ruang quick win karena setpoint “warisan” lama.

2. Strategi 80/20: fokus di zona yang paling boros dan paling bermasalah

Praktik lapangan menunjukkan, tidak semua zona memberikan kontribusi yang sama terhadap konsumsi energi. Dalam konteks pengelolaan berbasis data, pendekatan yang efektif adalah memprioritaskan zona yang dekat dengan setpoint, memiliki airflow tinggi, dan menghasilkan fault signal berulang di BMS. Dengan kata lain: lakukan pekerjaan di tempat yang “paling berisik” dan “paling boros” terlebih dahulu, lalu ukur dampaknya.

Indikator zona prioritas (mudah dicek dari BMS/EMS)

  • Zona dengan airflow tinggi dan valve/damper sering 80–100%.
  • Zona dengan fault paling sering (sensor error, valve stuck, short cycling).
  • Zona dengan override thermostat paling banyak.
  • Zona dengan keluhan yang berulang, terutama di jam yang sama.

Quick win yang sering menghasilkan penghematan

  • Kalibrasi sensor suhu/kelembapan dan verifikasi posisi sensor.
  • Perbaikan damper/valve yang hunting atau macet.
  • Penataan jadwal operasi (start/stop) yang lebih presisi.
  • Penyelarasan setpoint antar zona agar tidak saling “tarik-menarik”.

Di lapangan, eksekusi quick win sering tersendat bukan karena teknisnya rumit, melainkan karena ketersediaan item MRO (sensor, actuator, consumable, tools) yang tidak siap. Karena itu, sebagian tim fasilitas memilih memperkuat rantai pasok melalui mitra lokal seperti Karawang MRO supplier agar perbaikan kecil tidak berubah jadi backlog berminggu-minggu.


3. Berapa potensi hematnya? Cara menghitung sederhana yang bisa dibawa ke rapat

Tujuan bagian ini bukan membuat model energi yang sempurna, melainkan memberi alat komunikasi yang cepat: berapa potensi penghematan tahunan bila setpoint dinaikkan dan kontrol diperbaiki. Gunakan pendekatan konservatif agar mudah disepakati lintas fungsi.

Rumus ringkas (estimasi konservatif)

  • Baseline energi HVAC (kWh/bulan) × tarif listrik = biaya HVAC per bulan.
  • Target saving (%) = estimasi dampak intervensi (mulai dari 5–10% untuk fase awal).
  • Saving rupiah/bulan = biaya HVAC per bulan × target saving.

Tabel contoh kalkulasi (silakan sesuaikan data site Anda)

Parameter Nilai contoh Catatan
Energi HVAC per bulan 250.000 kWh Ambil dari meter sub-panel HVAC atau EMS
Tarif listrik rata-rata Rp 1.600/kWh Gunakan blended rate sesuai kontrak
Biaya HVAC per bulan Rp 400.000.000 250.000 × 1.600
Target saving fase 1 8% Konservatif untuk 2–6 minggu awal
Potensi saving per bulan Rp 32.000.000 400.000.000 × 8%
Potensi saving per tahun Rp 384.000.000 Tanpa menghitung eskalasi tarif

Catatan penting: angka 29% sering muncul sebagai ilustrasi dampak setpoint yang relatif besar pada energi pendinginan dalam kondisi tertentu. Di dunia nyata, hasilnya bergantung pada desain, kontrol, okupansi, dan iklim. Karena itu, pendekatan paling aman adalah melakukan uji terkontrol (pilot) untuk memvalidasi setpoint hvac hemat energi di lokasi Anda.


4. Risiko yang harus dikelola: kenyamanan, kelembapan, dan kualitas udara

Menaikkan setpoint tidak boleh dilakukan “asal naik”. Pada banyak site, isu utamanya bukan suhu rata-rata, melainkan variasi antar zona, aliran udara, serta kelembapan. Bab ini memetakan risiko yang umum dan cara mitigasinya, agar tim Anda dapat menjalankan perubahan dengan percaya diri.

Checklist risiko dan mitigasi

  • Keluhan panas di titik tertentu → cek distribusi airflow, balancing, dan beban panas lokal (atap, skylight, mesin).
  • Kelembapan naik → evaluasi dehumidification, fresh air, dan strategi economizer (bila ada).
  • Zona “perang setpoint” → batasi override, rapikan hierarchy kontrol, dan sinkronkan jadwal.
  • Sensor bias → kalibrasi, reposisi bila perlu, dan standarisasi tipe sensor.

Komunikasi internal: kunci menjaga kepuasan

  • Umumkan tujuan perubahan (hemat energi tanpa mengorbankan kenyamanan).
  • Berikan kanal feedback yang jelas (form singkat/QR) selama pilot.
  • Gunakan metrik objektif: suhu, RH, keluhan per zona, dan jam operasi peralatan.

Dalam implementasi, sering muncul kebutuhan komponen kecil namun krusial (seal ducting, tape, chemical cleaner coil, filter, sensor, tools). Untuk memastikan kebutuhan ini tidak menghambat progres, sebagian perusahaan memanfaatkan Karawang industrial supplier sebagai mitra ketersediaan item lintas kategori.


5. How-To: pilot setpoint 22,2°C → 25°C yang aman (tanpa drama)

Bagian ini adalah panduan eksekusi yang bisa Anda copas menjadi rencana kerja. Kuncinya: mulai dari pilot, ukur, lalu skalakan. Dengan ritme ini, setpoint hvac hemat energi tidak hanya jadi ide, tetapi jadi program yang bisa diaudit dan dipertanggungjawabkan.

Langkah 1 — Tentukan area pilot dan definisi sukses

  • Pilih 1–2 gedung atau 10–20% zona (yang paling representatif).
  • Definisikan target: % saving, batas keluhan, rentang suhu/RH.

Langkah 2 — Kunci baseline 7–14 hari

  • Tarik data: kWh HVAC, supply/return temp, valve position, fault log, keluhan.
  • Pastikan sensor utama terkalibrasi (minimal spot-check).

Langkah 3 — Naikkan setpoint bertahap (bukan sekali lompat)

  • Naikkan 0,5°C–1°C, tahan 3–5 hari, evaluasi.
  • Ulangi sampai mencapai target (mis. 25°C) bila indikator tetap aman.

Langkah 4 — Prioritaskan zona “dekat setpoint” dan bermasalah

  • Mulai dari zona yang paling responsif dan paling boros (airflow tinggi, fault tinggi).
  • Perbaiki fault yang mengganggu sebelum menyalahkan setpoint.

Langkah 5 — Kelola feedback penghuni dengan disiplin

  • Tetapkan SLA respon keluhan (mis. 24 jam).
  • Klasifikasikan keluhan: panas, dingin, lembap, aliran udara, bau.

Langkah 6 — Buat laporan 1 halaman untuk manajemen

  • Sebelum vs sesudah: kWh, jam operasi, fault count, jumlah keluhan.
  • Kesimpulan: lanjutkan, koreksi, atau perlu intervensi tambahan.

Jika Anda membutuhkan pengadaan komponen HVAC, filter, chemical maintenance, tools, atau item pendukung MRO untuk mempercepat fase pilot, Anda dapat mengonsolidasikannya bersama Karawang BtoB supplier agar koordinasi kebutuhan teknis dan procurement lebih sederhana.


6. FAQ: pertanyaan yang paling sering muncul sebelum setpoint dinaikkan

Pada banyak site, pertanyaan yang sama akan muncul dari produksi, HR/GA, hingga manajemen gedung. Berikut jawaban praktis yang bisa membantu menyamakan persepsi sebelum program berjalan.

Apakah benar menaikkan setpoint dari 22,2°C ke 25°C bisa hemat energi 29%?

Angka 29% sering dirujuk dalam literatur sebagai ilustrasi dampak kenaikan setpoint terhadap energi pendinginan pada kondisi tertentu. Di lapangan, hasilnya dipengaruhi desain sistem, kontrol, iklim, dan okupansi. Karena itu, validasi terbaik adalah pilot terukur di lokasi Anda.

Bagaimana menjaga kepuasan penghuni saat suhu dinaikkan?

Fokus pada stabilitas zona (hindari hunting), distribusi airflow, dan kanal feedback yang cepat. Banyak keluhan muncul karena spot panas/dingin lokal, bukan karena setpoint rata-rata.

Apakah menaikkan setpoint akan membuat kelembapan naik?

Bisa terjadi, terutama bila dehumidification tidak selaras. Pastikan kontrol RH/ventilasi dikaji bersamaan agar strategi setpoint hvac hemat energi tetap aman untuk kenyamanan dan kualitas udara.

Zona mana yang sebaiknya diprioritaskan?

Zona dengan airflow tinggi, dekat setpoint, dan fault/override terbanyak biasanya memberikan dampak terbesar. Ini sejalan dengan pendekatan prioritisasi berbasis data dari eksperimen dan praktik manajemen fasilitas modern.

Apa indikator “program berjalan baik” dalam 2–4 minggu?

kWh HVAC turun, jam operasi kompresor menurun, fault kritikal berkurang, dan jumlah keluhan tidak meningkat (atau meningkat sementara lalu turun setelah tuning).


7. Dari KIIC sampai Karawang: mengubah setpoint itu program lintas fungsi

Perubahan setpoint jarang sukses bila dianggap “urusan engineering saja”. Ia butuh orkestrasi: engineering mengatur kontrol, GA/HR mengelola komunikasi penghuni, EHS memastikan kualitas udara dan keselamatan, procurement memastikan komponen tersedia, dan manajemen memastikan target dan governance jelas. Di kawasan industri dengan ritme tinggi, kecepatan eksekusi sering ditentukan oleh kesiapan item lapangan—mulai dari sensor, actuator, hingga kebutuhan housekeeping teknis.

Untuk pabrik yang beroperasi di kawasan KIIC dan sekitarnya, ketersediaan item MRO dan respon pengadaan sering menjadi pembeda antara pilot yang selesai dalam 2 minggu versus 2 bulan. Karena itu, sebagian tim fasilitas mengandalkan supplier industri KIIC Karawang agar eksekusi perbaikan kecil dapat dilakukan cepat dan konsisten.


Lebih hemat, lebih nyaman, lebih siap audit energi

Sebagai penutup, pada akhirnya setpoint bukan sekadar preferensi—ia adalah keputusan biaya yang bisa diukur dan ditata. Dengan pilot yang terstruktur, komunikasi yang rapi, dan perbaikan fault yang diprioritaskan, strategi setpoint hvac hemat energi dapat memberi penghematan nyata tanpa memicu gelombang ketidakpuasan. Kunci suksesnya bukan “menaikkan suhu semata”, melainkan mengelola variasi antar zona dan kualitas kontrol.

Kami, PT Duta Swarna Dwipa adalah perusahaan supplier B2B industri yang terkemuka di Karawang, Bekasi, dan Purwakarta. Di Karawang secara khusus atau di Jawa Barat bagian manapun Anda berada, tim kami akan senang hati untuk berdiskusi tentang kebutuhan HVAC maintenance, MRO, safety, tools, hingga consumable yang mendukung program efisiensi energi. Silakan hubungi halaman kontak website ini atau gunakan tombol WhatsApp di bagian bawah halaman untuk mulai berdiskusi.

Posting Komentar